Senin, 01 Oktober 2018

URBANISASI DAN PENGEMBANGAN WILAYAH


URBANISASI DAN PENGEMBANGAN WILAYAH
(FITRI INDAHSARI/ NPM 1525010135)

a.    Pengertian urbanisasi
Urbanisasi secara populer diartikan sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota. Namun sesungguhnya arti tersebut tidaklah seluruhnya benar. pengertian urbanisasi yang sesungguhnya adalah proporsi penduduk yang tinggal di perkotaan (urban area). Perkotaan (urban area) tidak sama dengan kota (city). Yang dimaksud dengan perkotaan (urban) adalah daerah atau wiayah yang meenuhi 3 persyaratan yaitu :
1.    Kepadatan pnduduk 500 orang atau lebih per kilometer persegi.
2.    Jumlah  rumah tangga yang bekerja di sektor pertnian sebesar 25% atau kurang, dan
3.    Memiliki delapan atau lebih jenis fasiitas perkotaan.
Hal ini menarik karena hampir semua masyarakat memahami arti urbanisasi secara sederhana saja, padahal kenyataannya tidak demikian.
b.    Ulasan Jurnal
menurut jurnal yang telah saya baca berjudul Pengembangan Wilayah Kabupaten Sidoarjo Sebagai Wilayah Pinggiran Kota Metropolitan Surabaya Dan Mobilitas Penduduk karangan I Nyoman Adika dari Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya, permasalahan yang terjadi adalah Sekitar 80 persen penduduk Indonesia tinggal di daerah pedesaan dengan mata pencaharian pokok di bidang petanian. Walaupun proporsi penduduk yang tinggal di pedesaan mulai menurun, tetapi tergolong masih tinggi karena lebih dari 60 persen dibandingkan dengan laju petumbuhan pada tahun 2000 (BPS, 2001)
Seperti yang telah dikemukakan di atas, umumnya aktivitas penduduk di bidang pertanian meningkat yang mengakibatkanluas lahan pertanian perlu ditingkatkan. Tetapi kenyataannya adalah sebaliknya, banyak lahan pertanian digunakan untuk keperluan nonpertanian, sehingga kebutuhan lahan pertanian semakin lama semakin tidak mencukupi.
Karena dorongan ekonomi yang mendesak warga pedesaan, sedangkan pembangunan di segala bidang di perkotaan berlangsung dalam tempo yang cepat, akibatnya dari pembangunan ini terciptalah pasaran kerja baik di sektor formal maupun informal. Prbedaan tersedianya pasaran kerja di daerah perkotaan dan pedesaan semakin tajam.
Karena perbedaan inilah terjadi aliran tenaga kerja dari desa menuju ke kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Maka terjadilah peningkatan jumlah penduduk yang sangat pesat dari tahun ke tahun. Sampai pernah ada program dari pemerintah untuk melaksanakan KB (Keluarga Berencana) agar peningkatan jumlah penduduk terlalu tinggi namun ketersediaan ruang dan pangan semakin terbatas. Program ini dinilai cukup berhasil untuk menekan jumlah penduduk di perkotaan.

c.    Inovasi dari Pemerintah
Sidoarjo, Kompas - Desa dijadikan titik awal bagi pembangunan. Karena itu, berbagai program penciptaan lapangan kerja diarahkan ke pedesaan. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi melakukan hal itu melalui Gerakan Desa Produktif.
Program tersebut dilakukan bersinergi dengan pemerintah daerah. Gerakan Desa Produktif ini diharapkan dapat menciptakan ribuan wiraswasta penggerak ekonomi desa sehingga laju urbanisasi ke kota bisa ditekan.
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar didampingi Bupati Sidoarjo Win Hendarso, Rabu (27/1), mencanangkan Gerakan Desa Produktif di Desa Simogirang, Prambon, Sidoarjo, Jawa Timur.
Muhaimin menegaskan, dengan menjadikan desa sebagai titik awal, semua program pembangunan akan diarahkan ke desa. ”Desa produktif ini untuk menjadikan sumber daya manusia sebagai pusat pembangunan sehingga benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Tidak seperti kota besar yang pembangunan jalan terus dilakukan, tetapi tetap saja hidup sumpek dan melarat,” kata Muhaimin.
Pembangunan kota yang pesat diiringi pertumbuhan investasi barang dan jasa, menurut Muhaimin, memicu arus urbanisasi. Kondisi ini membuat desa menjadi tidak produktif, sementara kota kelebihan daya tampung. Akibatnya, muncul berbagai masalah sosial akibat pengangguran dan kesenjangan kesejahteraan.
Untuk tahap awal, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi tahun ini menargetkan 200 desa produktif. Dalam satu desa, dipilih satu kelompok usaha mandiri beranggota 25 orang yang butuh pengembangan peralatan teknologi tepat guna, pelatihan keahlian manajemen dan teknis kreatif, penambahan modal usaha, serta pembangunan akses pasar.
Syarat masuk program Gerakan Desa Produktif adalah pendapatan per kapita penduduk di atas rata-rata desa lain dalam satu provinsi, tingkat pengangguran di bawah 1 persen, minimal 60 persen penduduknya lulus SMP, serta kontribusi warga dan bantuan pemerintah berkomposisi dua banding satu. Syarat lain, tingkat kesehatan masyarakat, dilihat dari tingkat kesuksesan program keluarga berencana, kematian bayi rendah, dan tingkat gizi masyarakat relatif baik.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja I Gusti Made Arka menjelaskan, program ini bertujuan menciptakan kader- kader pengembang kesempatan kerja pedesaan.
Tolok ukur keberhasilan program, kata Arka, adalah seberapa banyak masyarakat dengan kelompok usaha mandiri desa mengembangkan produk barang atau jasa siap jual, dengan memanfaatkan potensi sumber daya di desa dari hulu dan hilir.
Setiap kelompok usaha mandiri, kata Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kemenakertrans Masri Mahyar, mendapat Rp 50 juta untuk semua kegiatan, mulai dari pelatihan, pembelian peralatan, produksi, hingga pemasaran. Untuk mengembangkan desa produktif, dilakukan sinergi dengan Direktorat Jenderal Bina Penta.

Artikel ini telah tayang di
Kompas.com dengan judul "Tekan Urbanisasi dengan Desa Produktif " pada tahun 2010.

d.    Penyebab urbanisasi
·         Sarana dan prasarana di kota yang lebih lengkap
karena keterbatasan sarana dan prsarana di pedesaan, terkadang memicu keinginan masyarakat untuk berpindah ke perkotaan. Seperti kebutuhan elektronik yang lebih lengkap di perkotaan, sarana pendidikan, kesehatan, dan lain-lain yang jauh lebih tersedia di perkotaan,
·         Lapangan pekerjaan yang lebih banyak
Karena berkurangnya lahan pertanian di daerah pedesaan, sedangkan mata pencaharian utama mereka adalah petani, maka banyak petani yang sumber penghasilannya sangat berkurang dan menurunkan tingkat perekonomian di pedesaan. Sedangkan di perotaan banyak lapangan pekerjaan karena banyaknya home industri, pabrik, dan lain-lain yang banyak membutuhkan tenaga pekerja. Maka hal inilah pemicu masyarakat edesaan untuk pindah ke perkotaan.
·         Kehidupan di perkotaan yang lebih  modern
Kehidupan perkotaan yang lebih modern menjadi salah satu daya tarik sekaligus penyebab terjadinya urbanisasi. Orang- orang yang mendambakan kehidupan modern dan kekinian pasti akan memilih tinggal di daerah perkotaan daripada pedesaan. Kehidupan kota yang gemerlap dan modern menjadi hal yang dicari oleh generasi zaman sekarang untuk bisa memenuhi keinginannya. Di kota kita tidak harus repot jika menginginkan mandi air panas, karena ada pemanas air (baca: jenis air di bumi) otomatis. Di kota kita tidak harus menaiki tangga satu per satu dan menyebabkan capek, karena kita akan menemukan lift atau eskalator. Di kota kita juga tidak perlu capek- capek mencuci baju dan menyetrika karena di kota banyak usaha laundry. Ketika cuaca panas kita tidak perlu kipas- kipas atau menyalakan kipas angin karena hampir semua gedung sudah memiliki AC, dan masih banyak lagi kemudahan- kemudahan yang bisa kita dapatkan di kota.

e.    Tujuan urbanisasi
·         Memperoleh kesejahteraan hidup
Salah satu tujuan yang ingin dicapai seseorang yang melakukan urbanisasi adalah karena ingin memperoleh kesejahteraan hidup. Kesejahteraan hidup ini bisa bermakna luas, yakni bisa dipandang dari segi ekonomi (baca: zona ekonomi eksklusif) maupun sosial budaya. Seseorang yang lama menganggur di desa lebih memilih datang ke kota dengan alasan ingin memperoleh pekerjaan. Jika sudah memiliki pekerjaan maka orang itu akan mendapatkan gaji yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara dari segi sosial dan budaya, seseorang memilih tinggal di kota mungkin merasa lebih nyaman dengan segala fasilitas yang serba modern dan juga serba ada. Hal ini akan meringankan pekerjaan seseorang sehingga lebih sedikit membuang waktu apabila mengerjakan pekerjaan rumah.
·         Memperoleh kepuasan
Memperoleh kepuasan merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai seseorang yang melakukan urbanisasi. Memperoleh kepuasan ini berlaku pada orang-orang yang memang mendambakan kehidupan kota yang serba ramai, gemerlap, instan, modern dan lainnya. Orang-orang yang semacam ini sangat menginginkan kehidupan di kota sehingga akan sangat senang hati apabila bisa tinggal di kota.
·         Memperoleh kesenangan
Sama halnya dengan memperoleh kepuasan, apabila kepuasan telah dicapai maka seseorang akan memperoleh kesenangan. Kesenangan ini selalu dirasakan setelah seseorang mencapai kepuasan. Orang- orang yang menyukai lingkungan (baca: fungsi lingkungan hidup bagi manusia) dan juga atmosfer (baca: lapisan atmosfer) perkotaan akan merasa tidak betah apabila tinggal di pedesaan. Maka dari itulah orang- orang tipe ini akan lebih nyaman apabila tinggal di kota.
·         Mendapatkan pelayanan yang lebih baik dan lebih cepat
Tinggal di perkotaan memang akan mendapatkan kemudahan berupa pelayanan yang lebih baik dan cepat, terutama dalam bidang pendidikan dan juga kesehatan. Apabila di desa ketika ada yang sakit maka untuk berobat kita harus mengantri karena minimnya tenaga kesehatan sementara yang sakit banyak. Namun hal ini tidak ditemukan di kota, karena kota memiliki lebih banyak tenaga medis dan pusat-pusat pelayanan kesehatan. Di desa, bayi- bayi akan mendapatkan vaksin tertentu saja karena keterbatasan jumlah dan alat, namun di kota vaksinasi diberikan kepada bayi secara rutin, serta masih banyak contoh-contoh lainnya. Nah, hal seperti itulah yang menyebabkan seseorang mungkin lebih menyukai tinggal di kota daripada di desa, karena bisa memperoleh pelayanan yang lebih baik dan lebih cepat.



Selasa, 12 September 2017



SATUAN GEOMORFOLOGI

Geomorfologi  

        Satuan geomorfologi morfometri yaitu pembagian kenampakan geomorfologi yang didasarkan pada kelerengan dan beda tinggi menurut van Zuidam & Cancelado (1979) (Tabel 1) dan dalam penentuan pewarnaannya menggunakan klasifikasi bentukan asal berdasarkan van Zuidam (1983) (Tabel 2). Berdasarkan hal itu, untuk setiap satuan dicantumkan kode huruf, untuk sub satuan dengan penambahan angka dibelakang. Untuk klasifikasi unit Geomorfologi berdasarkan bentuklahan dalam penelitian ini membahas 4 klasifikasi unit geomorfologi yaitu : bentuklahan asal Denudasional (Tabel 3), Karst (Tabel 4), Struktural (Tabel 5) dan Fluvial (Tabel 6).

Tabel 1 Klasifikasi relief berdasarkan sudut lereng dan beda tinggi (van Zuidam-Cancelado, 1979)

No

Relief
Kemiringan
Lereng ( % )
Beda Tinggi
( m )
1
Topografi dataran
0 – 2
< 5
2
Topografi bergelombang lemah
3 – 7
5 – 50
3
Topografi bergelombang lemah kuat
8 – 13
25 – 75
4
Topografi bergelombang kuat perbukitan
14 – 20
50 – 200
5
Topografi perbukitan  tersayat kuat
21 – 55
200 – 500
6
Topografi tersayat kuat pegunungan
56 – 140
500 – 1000
7
Topografi pegunungan
> 140
> 1000


Tabel 2 Klasifikasi bentukan asal berdasarkan genesa dan sistem pewarnaan (van Zuidam, 1983).

No
Genesa
Pewarnaan
1
Denudasional (D)
Coklat
2
Struktural (S)
Ungu
3
Vulkanik (V)
Merah
4
Fluvial (F)
Biru muda
5
Marine (M)
Biru tua
6
Karst (K)
Orange
7
Glasial (G)
Biru muda
8
eolian (E)
Kuning

Tabel 3 Klasifikasi unit geomorfologi bentuklahan asal denudasional,
(van Zuidam, 1983)

Kode
Unit
Karakteristik
D1
Denudational slopes and hills
Lereng landai-curam menengah (topografi bergelombang kuat), tersayat lemah-menengah.
D2
Denudational slopes and hills
Lereng curam menengah-curam (topografi ber-gelombang kuat-berbukit), tersayat menengah tajam.
D3
Denudational hills and mountain
Lereng berbukit curam-sangat curam hingga topografi pegunungan, tersayat menengah tajam.
D4
Residual hills
Lereng berbukit curam-sangat curam, tersayat menengah. Monadnocks : memanjang, curam, bentukan yang tidak teratur.
D5
Paneplains
Hampir datar, topografi bergelombang kuat, tersayat lemah-menengah.
D6
Upwarped paneplains plateau
Hampir datar, topografi bergelombang kuat, tersayat lemah-menengah.
D7
Footslopes
Lereng relatif pendek, mendekati horisontal hingga landai, hampir datar, topografi berge-lombang normal-tersayat lemah
D8
Piedmonts
Lereng landai menengah, topografi berge-lombang kuat pada kaki atau perbukitan dan zona pegunungan yang terangkat, tersayat menengah.
D9
Scarps
Lereng curam-sangat curam, tersayat lemah-menengah.
D10
Scree slopes and fans
Landai-curam, tersayat lemah-menengah
D11
Area with several mass movement
Tidak teratur, lereng menengah curam, to-pografi bergelombang-berbukit, tersayat menengah (slides, slump, and flows).
D12
Badlands
Topografi dengan lereng curam-sangat curam, tersayat menengah.

Tabel 4 Klasifikasi unit geomorfologi bentuklahan asal karst
(van Zuidam,1983)

Kode
Unit
Karakteristik
K1
Karst  Plateaus
Topografi bergelombang – bergelombang kuat dengan sedikit depresi hasil pelarutan dan lembah mengikuti kekar.
K2
Karst/Denudation Slope and Hills
Topografi dengan lereng menengah – curam, bergelombang kuat – berbukit, permukaan tak teratur dengan kemungkinan dijumpai lapis, depresi hasil pelarutan dan sedikit lembah kering.
K3
Karstic/Denudational Hills and Mountains
Topografi dengan lereng menengah sangat curam, berbukit, pegunungan, lapis, depresi hasil pelarutan,cliff, permukaan berbatu.
K4
Labyrint or Starkarst Zone
Topografi dengan lereng curam – sangat curam, permukaan sangat kasar dan tajam dan depresi hasil pelarutan yang tak teratur.
K5
Conical Karst Zone
Topografi dengan lereng menengah – sangat curam, bergelombang kuat – berbukit, perbukitan membundar bentuk conic & pepino & depresi polygonal (cockpits & glades).
K6
Tower Karst Hills or Hills Zone/Isolated Limestone Remnant
Perbukitan terisolir dengan lereng sangat curam – amat sangat curam (towers, hums, mogots atau haystacks).
K7
Karst Aluvium Plains
Topografi datar – hampir datar mengelilingi sisa batugamping terisolasi / zona perbukitan menara karst atau perbukitan normal atau terajam lemah.
K8
Karst Border/Marginal Plain
Lereng hampir datar – landai, terajam dan jarang atau sangat jarang banjir.
K9
Major Uvala/Glades
Sering ditamukan depresi polygonal atau hasil pelarutan dengan tepi lereng curam menengah – curam, jarang banjir.
K10
Poljes
Bentuk depresi memanjang dan luas, sering berkembang pada sesar dan kontak litologi, sering banjir oleh air sungai, air hujan & mata air karst.
K11
DryValleys (Major)
Lembah dengan lereng landai curam – menengah, sering dijumpai sisi lembah yang curam – sangat curam, depresi hasil pelarutan (ponors) dapat muncul.
K12
Karst Canyons/Collapsed Valleys
Lembah berlereng landai curam – menengah dengan sisi lembah sangat curam – teramat curam, dasar lembah tak teratur dan jembatan dapat terbentuk.

Tabel 5. Klasifikasi unit geomorfologi bentuklahan asal struktural (Van Zuidam, 1983).

Kode
Unit
Karakteristik
S 1
Topografi bergelombang sedang hingga bergelombang kuat dengan pola aliran berhubungan dengan kekar,  dan patahan
Tersayat
S 2
Topografi bergelombang sedang hingga bergelombang kuat dengan pola aliran berkaitan dengan singkapan batuan berlapis
Berbentuk liniear
S 3
Topografi bergelombang kuat hingga perbukitan dengan pola aliran berkaitan dengan kekar dan patahan
Tersayat kuat
S 4
Topografi perbukitan hingga pegunungan denganpola aliran berkaitan dengan singkapan batuan berlapis
Berbentuk liniear, tersayat kuat
S 5
Mesag/dataran tinggi dikontrol struktur
Topografi datar hingga bergelombang lemah di atas plateau dan perbukitan di bagian tebing

S 6
Cuestas
Bergelombang lemah di bagian lereng belakang dan perbukitan pada lereng depan. Tersayat lemah.
S 7
Hogbacks dan flatirons
Tinggian berupa topografi perbukitan tersayat.
S 8
Structural denudational terraces
Topografi bergelombang lemah hingga perbukitan. Tersayat.
S 9
Perbukitan antiklin dan sinklin
Topografi bergelombang kuat hingga perbukitan.
S 10
kubah/perbukitan sisa
Topografi bergelombang kuat hingga perbukitan.
S 11
Dykes
Topografi bergelombang kuat hingga perbukitan. Tersayat.
S 12
Tebing sesar
Topografi bergelombang kuat hingga perbukitan. Tersayat.
S 13
Depresi graben
Topografi bergelombang lemah hingga bergelombang kuat.
S 14
Tinggian Horst
Topografi bergelombang kuat hingga perbukitan.

Tabel 6 Klasifikasi unit geomorfologi bentuklahan asal fluvial
(van Zuidam, 1983)   
      
Kode
Unit
Karakteristik
   F1
Rivers beds
Hampir datar, topografi teratur dengan garis batas permukaan air yang bervariasi mengalami erosi dan bagian yang terakumulasi.
   F2
Lakes
Tubuh air.
   F3
Flood plains
Hampir datar, topografi tidak teratur, banjir musiman.
   F4
Fluvial levees, alluvial ridges and point bar
Topografi dengan lereng landai, berhubungan erat dengan peninggian dasar oleh akumulasi fluvial.
   F5
Swamps, fluvial basin
Topografi landai-hampir landai (swamps, tree vege-tation)
   F6
Fluvial terraces
Topografi dengan lereng hampir datar-landai, tersayat lemah-menengah.
   F7
Active alluvial fans
Lereng landai-curam menengah, biasanya banjir dan berhubungan dengan peninggian dasar oleh akumulasi fluvial.
   F8
Inactive alluvial fans
Lereng curam-landai menengah, jara ng banjir dan pada umumnya tersayat lemah-menengah.
   F9      Fluvial-deltaic
Topografi datar tidak teratur lemah, oleh karena banjir dan peninggian dasar oleh fluvial, dan pengaruh marine.


            Menurut pemahaman saya , Satuan Geomorfologi merupakan bentuk-bentuk pada permukaan yang dihasilkan oleh peristiwa-peristiwa geomorfik berdasarkan kesamaan dalam bentuk dan pola aliran sungai dapat dikelompokkan ke dalam satuan yang sama. Tujuan dari pengelompokkan ini adalah untuk dapat memisahkan daerah konstruksional dengan daerah detruksional. Kemudian masing-masing satuan dapat dibagi lagi menjadi subsatuan berdasarkan struktur dan tahapan (untuk konstruksional) serta berdasarkan deposisional (untuk destruksional).

·         Sungai
Aliran sungai terbentuk oleh adanya aliran air hujan, es di kkutub yang telah mencair, maupun berasal dari mata air. Sungai juga mengalami tahapan geomorfik seperti periode muda, dewasa, dan juga tua. 

·         Dataran dan Plateau
Dataran maupun plateu merupakan wilayah – wilayah yang mempunyai bnetuk atau konstruksi datar atau membentang horizontal. Dataran memiliki konstruksi dengan relief yang rendah seperti adanya lembah dangkal. Sedangkan Plateau mempunyai relief yang tinggi dengan adanya lembah yang dalam. Secara umum beberapa jenis dataran, antara lain :
*      Dataran pantai (coostal plains) yang terbentuk oleh timbulnya dasar laut
*      Interior plains, yang mirip dengan dataran pantai tetapi yang terletak sudah jauh dari laut
*      Dataran danau (lake plains), terbentuk oleh timbulnya dasar danau karena pengeringan danau
*      Dataran lava (lava plains) dan plateau lava (lava plateau), terbentuk oleh aliran lava encer
*      Dataran endapan glasial (till plains), terdiri dari endapan glacial yang menutupi topografi tidak rata
*      Dataran aluvial (alluvial plains), yang terbentuk dari endapan aluvial dari kipas aluvial di kaki pegunungan hingga jauh ke dataran banjir dan dataran pantai.

·         Pegunungan kubah (dome mountains)
Kubah diartikan sebagai struktur dari suatu daerah yang luas dengan sifat lipatan regional dengan sudut kemiringan yang kecil. Ada beberapa sebab terjadinya kubah, antara lain oleh intrusi garam atau diapir, intrusi lakolit, dan intrusi batuan beku seperti batolit.

Gambar 1. Sktesa bentuk morfologi hogback
Hogback merupakan punggungan dengan lapisan miring yang merupakan salah satu komponen pembentuk pegunungan kubah.

·         Pegunungan Lipatan (Folded Mountains)
Pegunungan Lipatan merupakan pegunungan dengan struktur lipatan yang tidak rumit. Daerah pegunungan lipatan umumnya berbukit-bukit terjal, dengan lembah-lembah yang panjang, adanya perulangan antara lembah lebar dan lembah sempit akibat perbedaan kekerasan batuan, adanya gawir terjal dan pegunungan landai pada hogbacks atau homoclinal ridges.
Daerah pegunungan lipatan yang terdiri dari batuan-batuan sedimen sering pula mengandung nilai-nilai ekonomis seperti batu gamping, batu lempung, batu pasir kuarsa, gipsum, dan sebagainya.

·         Pegunungan Patahan (Block Mountains)
Pegunungan ini merupakan hasil deformasi oleh sesar. Pada tahapan muda pegunungan patahan memperlihatkan gawir-gawir terjal yang memisahkan antara satu blok pegunungan dengan blok yang lain atau antara blok pegunungan dengan blok lembah. Umumnya bidang gawir tajam relatif rata, belum tersayat oleh lembah-lembah. Bentuk blok dapat persegi, berundak, atau membaji tergantung kepada pola sesar.

Gambar 2.
Sketsa proses geomorfik pada pegunungan patahan

·         GunungApi
Pertumbuhan gunung api merupakan salah satu dari bentuk konstruksional, dimana pembentukannya dapat terjadi melalui letusan, longsoran, injeksi kubah lava, dan sebagainya diselingi dengan erosi. Pada umumnya proses erosi berjalan lebih lambat dari proses pembentukan gunung api (Gambar 10). Disamping itu gunung api dapat pula mengalami proses konstruksi lain seperti sesar dan lipatan.

SUMBER :

DASAR%20GEOMORFOLOGI%20%E2%80%93%202.%20Satuan%20Morfologi%20_%20Wingman%20Arrows.html
file:///D:/UPN%20VETERAN%20JATIM/SEMESTER%205
/GEOMORFOLOGI%20DAN%20KLASIFIKASI%20TANAH/DASAR-DASAR%20GEOMORFOLOGI%20%E2%80%93%202.%20Satuan%20Morfologi%20_%20Wingman%20Arrows.html